Selasa, 17 Februari 2015

Cerpen terbaru



Mimpi yang Sempurna
Yosep “AHZA” Manthora
            “Yang penting, pertama adalah niat, kang…! Itulah kalimat yang pertama kudengar dari seorang temanku, saat aku mengutarakan maksudku untuk belajar menjadi seorang penulis. Kata itu benar-benar masih terngiang di telingaku walaupun sudah sekitar dua tahun yang lalu.
            Waktu itu pertama kalinya muncul niatku untuk belajar menulis. “Tapi aku tidak punya latar belakang pendidikan tinggi mas, aku ini hanya lulusan sekolah menengah atas, itu pun bukan alumni dari sekolah favorit,” bantahku. “Apa aku bisa, Mas?”
            Saat itu aku beranggapan kalau seorang penulis itu harus memiliki pengetahuan yang tinggi, termasuk juga harus memiliki perbendaharaan kosakata yang banyak.
            Akhirnya obrolan kami waktu itu menjadi panjang. Aku merasa tepat sekali bertanya dan minta saran pada temanku yang satu itu, karena dia adalah seorang penulis yang sudah cukup ternama di Jawa Tengah dan telah banyak menulis buku baik fiksi maupun non-fiksi, terutama di sekitar wilayah Jogjakarta dan sekitarnya. Setelah pertemuan tersebut, aku merasa telah mempunyai seorang guru, dan dia telah menjadi seorang motivator pribadi, hingga semakin menambah kuatlah keinginanku untuk benar-benar belajar menulis. Siapa tahu suatu saat nanti aku bisa seperti temanku itu.
            Suatu ketika dia pernah bilang,Kunci utama untuk bisa menulis adalah latihan yang berulang-ulang, kang.Aku selalu mencoba mengikuti apa yang telah disarankannya, walau kadang begitu berat. Memang benar apa yang dia katakan, kematanganku dalam menulis semakin kurasakan setelah sekian tahun berlalu, dengan berbagai aral dan rintangan.
            Walaupun ada sesuatu yang menggelitik dalam benak ini, yakni buah dari tulisan-tulisanku sampai saat ini belum ada satu pun yang menghasilkan secara materi. Tapi aku selalu yakin dengan apa yang telah dan sering diamanatkan temanku yang penulis itu, “Ingat kang, jangan pernah kita menggantungkan kebutuhan hidup kita dari menulis, karena pada dasarnya menulis itu bagian dari karya seni. Dan sebagai seorang seniman sejati itu tidak pernah kenal lelah untuk terus berkarya apa pun risikonya. Dan kalaupun kita sudah menjadi seorang penulis yang ulung dan terkenal, uang atau materi akan mudah didapat.Apalagi katanya kalau karya-karya kita digemari dan disenangi masyarakat maka siap-siaplah kita untuk menikmati hasilnya, setidaknya ada kebanggaan tersendiri.
            Namun demikian sering kali kesabaranku diuji. Saat mendapat kabar buruk dari penerbit, tentang tulisanku yang katanya belum layak untuk terbit dengan berbagai macam alasan, entah itu isinya terlalu umumlah, terlalu ringanlah, dan masih banyak lagi alasan lainnya. Padahal aku sudah merasa karyaku sudah maksimal. Pada Akhirnya aku sadar bahwa hakikat seorang manusia hanyalah diwajibkan untuk berusaha dan berdoa, sementara untuk hasil dari usahanya itu adalah menjadi haknya Allah SWT. Dialah yang telah mempunyai skenario dengan kehidupan ini.
            Temanku yang satu ini mempunyai peran sangat penting dalam perjalanan kehidupanku, khususnya di dunia tulis-menulis. Dan lagi-lagi pengalaman pahitnya dulu sebelum dia sukses telah menjadi treatment yang hebat bagiku untuk terus tanpa bosan senantiasa  menulis dan menulis.
            Kang, dulu juga aku seperti akang, hampir frustrasi bila ingat hasil tulisanku. Jangankan laku terjual dibaca orang saja enggak, karena tak ada penerbit yang mau menerbitkan tulisan-tulisanku,” ujarnya.
            Itulah hebatnya temanku, dia selalu memberi nasehat dengan cerita-cerita masa kelamnya. Benar kata pepatah pengalaman adalah guru atau nasehat yang sangat berharga. Tanpa terasa secangkir kopi dan berbatang-batang rokok telah aku hisap, saking terlenanya dengan lamunanku tentang temanku ini, hingga tanpa kusadari hp-ku berdering.
            Ternyata itu panggilan dari penerbit yang telah aku tawarkan naskah tulisanku yaitu sebuah novel yang kuangkat dari kisah nyata yang terjadi di desaku ini, yakni mengangkat tema hiruk pikuknya pemilihan kepala desa atau biasa disebut kades.
            Dengan sedikit rasa malas aku ambil hp-ku, dan seperti biasa benakku berkata, “Paling juga seperti biasanya, maaf Mas Hendra untuk sementara karya Mas Hendra belum bisa kami terima.’
            Hallo, dengan Mas Hendra ya?” Aku sudah hafal benar dengan suara itu.
            Iya pak, ini saya sendiri,” jawabku malas.
            Ini kami dari penerbit Santiaji ingin menyampaikan berita gembira, kalau novel yang telah mas kirim akan segera kami terbitkan. Dan sekarang sedang dalam proses layout dan pengkoveran.”  
            Dengan setengah tidak percaya dan kaget aku bertanya. “Ini benar, Pak?”
            Iya Mas Hendra, kali ini novel karya Mas Hendra akan kami terbitkan, dan untuk sementara akan kami cetak dua ribu eksemplar. Untuk itu kami mengundang Mas Hendra besok datang ke kantor kami!
            Oh ya pak, besok saya kesitu, jawabku sangat girang.
            Pagi hari setelah minum kopi aku langsung memacu sepeda motorku yang selama ini telah menjadi teman setiaku dan menjadi saksi bisu setiap kali naskah-naskahku ditolak penerbit. “Wahai motor tuaku, kali ini kau akan menjadi saksi bisu tidak seperti biasanya, batinku menggumam.
            Mungkin inilah yang sering dibicarakan teman penulisku itu. Hidup ini bergantian, kalau sudah gilirannya semua pasti bisa kita raih,” itulah bagian dari nasehatnya. Belum pernah aku merasakan kebahagiaan seperti pagi ini, Ini adalah awal dari segalanya,” kembali aku bergumam. “Ya Allah semoga ini adalah awal dari apa yang menjadi angan-anganku selama ini.” Semenjak aku berteman dengan teman penulisku itu, aku sangat terobsesi untuk menjadi seorang penulis yang ternama seperti temanku, bahkan dia pernah bilang, ‘Siapa tahu akang bisa lebih hebat dari aku.’
            “Amiin,” jawabku.
            Begitu asyiknya aku melamun dan membayangkan apa yang akan terjadi di tempat penerbit nanti, hingga aku tidak sadar kalau di depanku ada rambu-rambu lalu lintas. Lampu merah sudah terlanjur menyala, motorku terus meluncur. Akupun sudah tak bisa menguasai laju sepeda motorku, reaksi reflek kakiku untuk menginjak pedal rem tak mampu mencegah laju sepeda motorku, dan ciiiiiiiiiiiiitttt…..brakkkkkkk. Pandanganku gelap, aku hanya berteriak dan merintih, “Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…!”sebelum akhirnya ingatanku hilang.+
            Tok, tok, tok… samar kudengar di telingaku… seseorang berteriak,Mas iyus, Mas iyus, ada apa mas?” Semakin jelas suara itu kukenali, tak salah lagi itu adalah suara adik kelasku Marwan yang tinggal sebelah kamarku kostku. Akhirnya kubuka mataku, begitu jelas dan semakin tampak jelas pandanganku. Tak salah lagi aku masih berada di dalam kamar kostku yang begitu berantakan. “Nggak ada apa-apa, dik, jawabku dari dalam, dengan masih setengah sadar, dan semakin tambah sadar.
“Benar nih?Tanya Marwan meyakinkanku.
            Iya dik, bener nggak ada apa apa kok. Cuma mimpi,jelasku.
            Oh ya sudah kalau begitu,” jawab Marwan sambil ngeluyur pergi.
            “Alhamdulillahirabbil’alamiin,” ucapku dalam batin. Ternyata aku tidak menerobos lampu merah, berarti aku tidak sedang mengalami kecelakaan. Aku masih sedang duduk di depan Notebook dengan tulisanku yang masih terbuka. Berarti tadi aku telah ketiduran, dengan imajinasiku menjadi seorang penulis, padahal ini adalah pertama kalinya aku baru belajar menulis, he-he-he.